Tips Menawar Harga di Tempat Wisata

Di tempat-tempat wisata seperti Tangkuban Perahu, Malioboro, atau Candi Borobudur, kita pasti nggak susah untuk menemukan penjual-penjual souvenir khas tempat wisata dan souvenir-souvenir lainnya. Sayangnya, sebagian besar di antara mereka menjual dagangannya dengan harga yang tinggi, memang sih, barang-barang mereka masih bisa ditawar, tapi bukannya harga yang tinggi itu bikin kita pusing buat nentuin harga pasnya? Kita emang ga mau rugi, tapi kita juga ga mau ngasih penjual souvenir keuntungan yang cuma sedikit kan? Ingat, sebagian besar di antara mereka berasal dari kalangan kelas menengah yang mungkin pekerjaan menjual souvenir adalah pekerjaan utama mereka.

Nah, buat kamu-kamu yang merasa kesulitan untuk menawar barang yang kamu inginkan, di bawah ini telah diberikan langkah-langkahnya. Namun satu prinsip yang pasti, ingatlah selalu bahwa kamu menawar karena kamu mengusahakan sebuah harga yang tidak merugikan konsumen namun juga tidak membuat penjual rugi. Mostly di antara kita terlahir dengan bakat luar biasa untuk menawar sampai-sampai penjual tidak mendapatkan keuntungan sama sekali bahkan rugi namun ga sedikit juga yang sama sekali ga tau caranya menawar dan memberi penjual keuntungan yang nggak rasional.

1. Ingat bahwa penjual tidak akan melepas barang dagangannya dengan harga rugi. Kecuali kita berlaku brutal dengan memarah-marahi penjual souvenir tersebut atau tindakan-tindakan tidak terpuji lainnya, penjual akan melepas barang yang kita ingini meskipun dia akan rugi karena dia tidak ingin menderita lagi karena tindakan-tindakan kita.

2. Karena penjual tidak melepas barang dagangannya dengan harga rugi, maka kita bisa menawar harga serendah mungin sebatas persetujuan penjual. Masalahnya, bagaimana cara menawar harga serendah mungkin yang masih memberi keuntungan bagi penjual? Langkah ketiga akan menjawabnya.

3. Amati barang yang akan kita beli tersebut dan bayangkan dengan harga berapa kita akan menjual barang tersebut jika kita adalah seorang penjual souvenir. Tentu harga jual yang kita bayangkan adalah harga yang masih memberi kita keuntungan namun tidak merugikan pembeli. Misalnya kamu melihat seutas kalung dengan dog tag monel, kamu bisa membayangkan kamu akan menjual barang tersebut dengan harga Rp10.000,-.

4. Jika kamu kesulitan untuk menentukan harga jual barang dalam pikiran kamu, maka kamu harus sering mendatangi toko-toko yang menjual barang dengan harga yang tidak bisa ditawar lagi. Seperti swalayan, atau warung-warung kecil di pinggir jalan. Kamu bisa memperoleh pengetahuan tentang bagaimana menjual barang dengan harga yang menguntungkan penjual dan tidak merugikan konsumen.

5. Ketika kamu telah berhasil membayangkan harga souvenir yang akan kamu beli, tawarlah kepada penjual lebih rendah daripada harga perkiraan kamu. Misal sebuah gelang bercorak kayu yang dihargai Rp5.000,- per buah dan kamu mengira-ira bahwa harga jual gelang tersebut sebenarnya hanya Rp2.500,- per buah, tawarlah kalung tersebut kepada pejual dengan harga Rp2.000,- atau kurang. Hal ini penting sebab biasanya para penjual enggan menyetujui tawaran awal kita, jadi jika penjual menawarkan harga yang lebih tinggi, misalnya penjual gelang tersebut menimpali tawaran kita dengan menurunkan harga jual menjadi Rp3.000,- perbuah, maka tawaran penjual tersebut tidak akan berbeda jauh dengan perkiraan awal kita.

6. Cara kedua yang bisa kamu pakai adalah menawar barang tersebut dengan sistem ‘makin banyak beli, makin murah harganya’. Seperti contoh, jika sebuah gantungan kunci dihargai Rp3.000,- per buah, kamu bisa menawar kepada penjual Rp10.000,- untuk pembelian lima buah gantungan kunci, yang mungkin tidak disetujui penjual dan melabeli harga 12.000- untuk pembelian kita.

7. Setelah terjadi kesepakatan harga, bayarlah dengan tidak memakai uang pas. Saat penjual memberikan kembalian, kemukakan padanya bahwa kamu ingin meminta kembalian yang lebih karena alasan-alasan tertentu, misalnya karena kamu adalah pembeli pertama, atau karena kamu membeli banyak barang, atau karena penjualnya akan mendapatkan pembeli lagi, dan sebagainya. Yang penting, jangan menipu penjual dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal.

Ingat bahwa cara-cara yang disebutkan di atas hanya berlaku bagi penjual souvenir di tempat-tempat wisata dan pedagang-pedagang kaki lima di pinggir jalan, bukan di pasar tradisional atau sebagainya, meskipun dengan sedikit variasi cara-cara di atas juga bisa diterapkan kepada para penjual di pasar tradisional. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai macam ciri-ciri dan karakteristik penjual souvenir di tempat-tempat wisata yang agak berbeda dengan penjual di pasar tradisional. Nah, buat kamu-kamu yang pengen tahu karakteristik penjual souvenir yang patut kamu ketahui untuk mendapatkan harga beli souvenir yang memuaskan, tunggu artikel ‘Karakteristik Penjual Souvenir’ di blog ini.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: