Sebuah Cerita di Kedai Pizza

Ini cerita beberapa minggu yang lalu, tepatnya setelah aku memenangkan lomba debat bahasa inggris yang langsung disambut oleh guru pembinaku, “lets have a party tonight!”

Langsung saja ajakan guru pembinaku itu kami sambut dengan teriakan, “Hore..!” dan segeralah kami meluncur dari STIE BPD kota Semarang menuju DP Mall yang terletak tidak begitu jauh dari sana untuk segera menuju ke Pizza Hut. Kepalaku sudah membayangkan hal-hal yang berbumbu, lezat, dan cita rasa italia yang akan memanjakan lidahku. Wajar saja sebab aku tidak pernah makan Pizza Hut di tempat, bisa digambarkan suasana hatiku saat itu telah meluap dengan kegembiraan akan pengalaman baru ini. Yang kalau diteruskan sedikit lagi akan menjerumuskanku ke dalam lubang maut hedonis dimana semua orang disana sibuk dengan produk-produk instan dan kesenangan dunia gemerlap.

Aku, Christopher, Indi, Isni, Kiswanto, Pipit, Pak Agus, Bu Vika, dan Miss Christy, seorang native speaker dari Amerika telah duduk rapi di depan meja-meja yang telah ditata dan digabungkan sebelumnya oleh pelayan restoran itu, beberapa menit kemudian kami telah disibukkan oleh daftar menu yang melihat gambarnya pun aku sudah kenyang dan memproduksi air liur dalam jumlah yang cukup besar. Dan dalam hitungan waktu di depan kami telah tersaji banyak varian pizza, minuman pesanan teman-teman yang aku tidak tahu namanya, mocca float pesanan miss Christy, roti bawang, serta segelas coca cola pesananku. Dalam hati aku telah berkata rush! dan berniat untuk menyerbu segala yang ada di depanku, dan benar saja, aku hampir sedetik lagi untuk melumat habis pizza penuh daging dan keju dengan pinggiran sosis yang empuk sampai…

… aku melihat suatu kejadian yang membanting jiwaku kembali ke permukaan bumi.

Persis di depan mataku kulihat sebuah keluarga dengan kondisi yang amat jauh berbeda dengan kondisi yang ada di meja yang sedang kuhadapi ini. Berbeda dengan kami bersembilan yang memenuhi meja dengan hidangan-hidangan pizza aneka topping, keluarga tersebut hanya memesan satu loyang pizza ukuran kecil dan beberapa iris roti bawang untuk dinikmati bersama. Sang ayah-aku tak tahu apakah mereka adalah sebuah keluarga, namun yang kulihat adalah seorang pria yang memakai kemeja terbalut jas bepergian dengan celana cokelat model 80-an dengan raut muka berhias kacamata frame besar yang menunjukkan bahwa dia cukup letih karena terus menguras tenaga dan pikiran untuk menghidupi keluarganya. Sementara sang istri yang berambut keriting tidak jauh berbeda dengan sang suami, Ia berpakaian sederhana dengan jas bepergian berwarna dan agaknya ia ingin sedikit mengalah kepada kedua anak lelakinya agar mendapatkan bagian pizza yang lebih banyak.

Mataku beralih pandang kepada kedua anak lelaki itu, nafsu menegak coca-colaku menurun drastis ketika melihat dua gelas yang berada di depan anak itu, dua buah gelas berisikan air mineral yang tampaknya, mereka menikmatinya. Sungguh sederhana keadaan sebuah meja yang persis di depan mataku namun aku tidak dapat menangkap suatu perasaan minder ataupun malu dengan meja-meja sekitar mereka yang mungkin memesan makanan dengan beraneka jenis rupa dan wujud hanya karena mereka tidak ingin terlihat ‘miskin’. Keluarga itu benar-benar menikmati apa yang ada pada mereka dan menyantap hidangan yang telah tersediakan bagi mereka, kecuali sedikit raut wajah penuh belas kasihan dari sang ibu dan ayah kepada kedua anak lelakinya, namun yang pasti, kesederhanaan mereka telah menyusup dalam diriku dan menghancurkan nafsu hedonis serta keegoisan diri yang amat potensial untuk menghancurkan kepribadianku. Aku benar-benar berterima kasih kepada mereka.

Menit berikutnya aku menikmati makananku dengan sikap hati yang agak berbeda, kerakusan di dalam tubuhku ini sudah menyusut dan aku hanya tinggal mengambil sikap untuk menjadi seorang pesyukur, dan hingga hari ini, aku masih belajar untuk menjadi pesyukur itu.

2 Tanggapan

  1. hmm,, gw juga inget tuhh kejadian.. ga kerasa 3 bulan waktu ku dah berlalu… tp smwa memori2 yg pernah gw alami bersama ka arya, mas kis, chris, iche, mba pipit, mba dini, mom fika, miss christy, en smwa yg ga bisa gw sebut (termasuk mbah di en ibu2 kantin jg!) akan salalu trsimpan di hati en otak gw…
    ka arya mw tw?? knpa ak akan selalu nginget semua itu?? karna dulu pernah ada seorang sahabat gw yang bilang dg kita melupakan berarti kita ngingkari hal itu pernah ada dlm hidup kita en itu akan nyakitin kita…
    gw mw ngucapin thanks bgt ke sahabat gw itu, meski kadang dia sendiri bilang kalo apa yg ude dia lakuin itu biasa aja, tp apa yg dia lakukan-semuanya,termasuk dg diam nya itu, sangat berarti bgt buat gw…
    i'll do my best work coz i know God always caring me en there is a person who always believe i can in someplace… thanks,sorry, good bye..

  2. oke ndi…
    km sukses juga y…
    kurangi kekanak-kanakan km…
    lebih mandiri, dewasa, bertumbuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: