Lack of Ideas

Gue lagi kehabisan ide.

Yep, ga tau deh mau nulis apa di blog radenharya gw, tapi yang jelas mood gw buat nulis di hari ini sangat-sangat-sangat-sangat nggak enak.

Ga tau kenapa.

Mungkin otak perfeksionis gw tumbuh lagi? Oh my God, don’t let it happen. Cukuplah hanya kaisar Nero yang membakar seluruh kota paling berkuasa di zaman itu karena sifat terlalu perfeksionis dan idealis itu. Not me…, not me….

Tapi seperti kata Waitlem, “Ketidakmampuan juga ide”

Maksudnya?

Yep, ide menulis sebenarnya nggak akan pernah surut.

Karena kehabisan ide itu juga ide!

bisa saja kan kita menceritakan pengalaman dan kesan kita sewaktu kehabisan ide lewat tulisan? Itu bukti kalau ide tulisan tidak_akan_pernah_ada_habisnya.

Nah, selidik punya selidik, setelah melewati proses penyelidikan diri yang mendalam (cieeee) akhirnya gue menemukan kalau penyebab kekosongan ide yang gw alami adalah…

Stop at the best.

yep, ini kebiasaan buruk gw yang masih melekat sampai sekarang: dalam perjalanan hidup gw, gw cenderung untuk berhenti pada suatu titik kesuksesan dan enggan untuk melanjutkan perjalanan.

dengan bahasa lain, ketika gw sudah mencapai suatu standar keberhasilan yang gw harapkan, dalam bidang apapun juga, gw cenderung untuk stag, mempertahankan, dan menikmati perasaan akan keberhasilan tersebut sepanjang waktu. Yang mengakibatkan gue enggan untuk melangkah ke depan karena takut, “mungkin di hari depan ga bakal gue temui lagi perasaan yang kayak gini”.

Ini sama saja kita sedang berjalan menuju sebuah tempat dan menemukan sebuah rumah emas di perjalanan kita. Betapa enggannya kita meninggalkan rumah emas itu meskipun kita tahu bahwa di tempat tujuan kita, emas itu sampah karena ada sesuatu yang amat sangat lebih mulia daripada emas.

Gue cenderung untuk mengikatkan diri dan membelenggukan diri sendiri pada suatu ikatan PERASAAN keberhasilan yang pada akhirnya mengakibatkan gw menganggap bahwa bila ingin terus mengalami keberhasilan maka yang harus gw lakukan adalah MELAKUKAN TINDAKAN-TINDAKAN YANG SAMA PERSIS DENGAN TINDAKAN-TINDAKAN gw yang mengakibatkan keberhasilan gw saat ini.

Inilah kasus gw, kemarin gw baru aja nyelesaiin tulisan gw tentang profil salah satu guru dan berita sekolah. Nah di sana gw merasakan sesuatu di hati gw, ada perasaan puas, ada perasaan bangga, ada perasaan ‘yang-paling-pintar-di-seluruh-muka-bumi’ yang menghinggapi gw. Dan zlab! gue terjebak dalam Syndrome of Yesterday (Sori ngutip istilahnya Jet Veetlev).

Di hari-hari berikutnya ketika gw menyadari hal ini, gw jadi nggak terikat lagi sama ‘hari kemaren’ dan akhirnya kehidupan gw berjalan kembali, even better.

Just as simple as that.

2 Tanggapan

  1. Tulisan yang bersangkutan tentang Syndrome of Yesterday dapat di baca di Yesterday No More di blog saya. Salam kenal, sobat.

    Lex dePraxis
    Romantic Renaissance

  2. Wah, thanks Lex wat kunjungannya! For me, hitmansystem tu nggak cuma ngajari soal romansa, tapi juga interaksi sosial pada umumnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: