Kekuatan Laskar Pelangi

Siapa yang nggak kenal dengan Laskar Pelangi? Kisah sepuluh anak belitong yang berjuang memperoleh pendidikan yang layak ini telah menyihir jutaan orang di seluruh indonesia dari kalangan apapun. Bahkan konon, seorang pecandu narkoba pulih dari keadaannya setelah membaca buku jepretan masa kecil Andrea Hirata ini.
Sebenarnya apa yang menjadi kekuatan dari Laskar Pelangi sehingga mampu mengubah hidup banyak orang yang membaca bukunya maupun yang menonton filmnya?

Tiga kekuatan besar. Ya, tiga kekuatan besar.

Andrea Hirata dan Riri Riza telah berhasil memasukkan tiga kekuatan besar di dalam karyanya, tiga kekuatan besar yang selama ini belum pernah tersiarkan oleh media maupun muncul di sinetron-sinetron lokal: Perjuangan, Pengorbanan, dan Cinta.

Perjuangan

Yang pertama, film ini mengajari kita tentang pentingnya arti sebuah perjuangan, apapun bentuknya. Sepuluh anak miskin belitong telah memperjuangkan sesuatu yang menjadi hak mereka: Pendidikan, meskipun dibelit oleh segala keterbatasan dan ketidakmendukungan lingkungan. Mahar, misalnya, dengan dana yang amat terbatas serta tekanan mental yang dahsyat yang datang dari sebuah SD elite di belitong tidak lantas membuatnya ciut untuk menampilkan karya teatrikal besarnya. Atau Lintang, yang menghadapi tekanan serupa namun tetap maju dan percaya dengan kemampuan timnya yang pada akhirnya membawa SD Muhammadiyah Belitong menjuarai Lomba Cerdas Cermat Sekolah Dasar.
Pengorbanan

Ayah lintang adalah seorang nelayan yang menjadi tulang punggung belasan orang di rumahnya. Dan penghasilan nelayan yang memang tidak bisa dijanjikan tersebut menuntutnya untuk mengajak anak tertuanya, Lintang pergi melaut bersamanya. Tapi alih-alih demikian, disuruhnya Lintang mengecap yang namanya pendidikan di sebuah sekolah yang berjarak 80 Km dari rumahnya. Semuanya itu karena kesadarannya akan pendidikan mengalahkan segala desakan hidup.
Cinta

Tidak ada tembok pembatas antara si kaya dan si miskin, si Hokian dan si Melayu. Semua keberbedaan melebur menjadi satu di dalam kelompok anak-anak yang menamai dirinya Laskar Pelangi. A Kiong, misalnya. Sebagai satu-satunya anak Hokian di kelas dia mungkin rentan dengan sikap diskriminasi, namun tidak di sekolah ini, semua menganggapnya sama. Dalam bahasa psikologi, inilah cinta philia, cinta persahabatan.

Cinta bu Mus kepada anak didiknya juga roh yang amat kuat dalam karya ini. Ibu Muslimah bisa saja memilih tidak mengajar sebuah SD reyot dengan gaji pas-pasan dan menikah dengan saudagar kaya. Namun panggilan hati membuatnya rela untuk meninggalkan semuanya dan mengemban tugas yang menjadi tujuan hidupnya: mengajar. Dan seperti yang kita tahu, pengorbanan apapun nggak akan pernah sia-sia, mayoritas manusia didikan ibu Muslimah kala itu berhasil menjadi “Orang” yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah ketiga hal itu tumbuh di hati kita? Jika memang sudah, maka kita telah siap untuk menjadi laskar pelangi yang mengubahkan hidup banyak orang. Namun jika kita belum mampu menumbuhkannya dalam hati, percayalah bahwa ketiga hal itu adalah hal yang terbaik untuk dimiliki seorang manusia yang benar-benar manusia.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: