Sebuah Lubang Kehidupan

Kubuka album kehidupanku dan mendapati sebuah lubang di sana. Bukan lubang selayaknya black spot pada layar Sony Ericssonku, ini lubang kehidupan. Benar-benar sebuah lubang. Sebuah frase kehidupan yang aku anggap bukan sebuah kehidupan. Sebuah frase kehidupan dimana aku, mati.

Mati karena aku tidak menjalani hidup yang sebenarnya, aku adalah orang bodoh di cerita Plato tentang manusia-manusia gua yang hanya berdiam diri sambil melihat bayangan kehidupan di luar sana. Sebuah lubang yang, uhm… cukup besar… hampir sepertiga dari usiaku sekarang dan menjadi monumen di mana aku adalah seorang pengamat kehidupan, atau lebih tepatnya, seorang pengamat para peserta kehidupan.

Hanya sahabatku yang mengetahuinya, bukan karena terlalu pahit untuk diceritakan, namun aku tidak tahu dari mana aku harus memulai, di mana aku harus mengakhiri, dan yang lebih parah adalah, aku tidak tahu bagaimana jalan yang sebenarnya.

black_hole_full_size

Bahkan mungkin sebenarnya, lubang itu hanyalah lubang bagi diriku, kelak ketika aku telah mendapatkan cahaya lebih banyak, aku akan sadar bahwa lubang itu hanyalah sebuah blind spot yang akan menunjukkan rupa sebenarnya ketika tersinari cahaya. Aku tidak benar-benar tahu, terkadang lubang itu membuatku pahit, terkadang lubang itu membuat aku ingin merobeknya dan memulai kehidupanku yang baru dari awal, terkadang lubang itu membuat aku bersyukur karena ketika telah jelas terlihat semua, aku bisa menghapus lubang-lubang pada kehidupan orang lain, terkadang lubang itu membuatku, menyesal.

Lubang itu bagaikan dementor yang menyerap habis seluruh kebahagiaanku, dan bahkan, kesedihanku! Aku telah tercium oleh bibir mematikan para dementor dan membuat aku tak bisa merasakan apa-apa lagi. Tidak kesenangan, tidak juga kesedihan. Aku bukan hidup walau aku belum mati. Aku menjadi tanpa ekspresi dan tersedot masuk kedalam lingkaran setan para dementor.

Cerita hidupku tidak akan pernah berakhir sedih. (Thanks God!)

Masih teringat ketika proses yang panjang itu mendepakku dari lingkaran setan itu, bahkan sebenarnya, sekarangpun aku masih mengalami hal itu. Untuk melepas segala jerat maut dalam diriku memang tidak mudah, perlu waktu. Gelas berisikan ampas kopi tidak akan langsung bersih ketika tertuangi air bersih. Akan ada proses yang panjang untuk pemurnian seutuhnya. Tapi aku siap untuk hal itu. Terlebih untuk berdamai dengan lubang kehidupanku. Sebuah lubang yang sangat tidak bisa kuterima keberadaannya, meskipun terkadang aku bersyukur karenanya. Lubang yang sangat rumit, tak sanggup dijelaskan, sangat aneh dan membuatku terpenjara di dalamnya.

Kalianlah yang mengangkat aku keluar dari lubang itu, teman-temanku.

Ciuman dan pelukan tak akan mampu menggambarkan rasa terima kasihku pada semua yang bisa kutemu, semuanya baik.

Terima kasih atas uluran tangan dan tambang yang kalian berikan kepadaku. Aku akan berjalan dan berjalan membersihkan diriku dari genangan plasma itu.

Musuh-musuhku, teman-temanku, dan sahabat-sahabatku, terima kasihku padamu.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: